Waktu dan Jarak

Semua ini tentang waktu dan jarak.

Bagaimana tidak, dengan waktu dan jarak, kamu akan tahu seberapa pentingkah orang-orang yang biasa bersamamu, kamu akan tahu rasa yang ada di hati kamu akan pudar atau semakin menguat seiring berjalannya waktu. 

Ketika kamu ditinggal pergi oleh orang yang kamu sayang, kamu akan terus memikirkan dia. Kamu harus terbiasa tanpa dia. 

Ketika kamu mengengarkan sebuah lagu, melewati jalan yang biasa dilewati bersama dia, semuanya akan mengingatkan tentang dia. Otak seakan tidak lelah membeberkan semua kenangan yang ada di dalam kotak memori. Lebih buruknya lagi, selalu ada butiran air yang membasahi pipi mendampingi permainan kenangan itu.

Kamu akan depresi, kamu akan overthinking, itu wajar. Tapi seiring berjalannya waktu dan jauhnya jarak antara kamu dengannya, kamu pasti bisa keluar dari semua itu. Karena,

Waktu dan jarak itu menyadarkan.

Ini tulisan terakhirku tentang kamu. Butuh waktu yang sangat lama untuk menyadarkan diri bahwa jarak kita sangat jauh, harus melewati beberapa provinsi dan sangat tidak mungkin bagi kita untuk bertemu lagi. Terima kasih kamu telah membuatku lebih dewasa. Aku lebih berterima kasih pada waktu dan jarak yang telah menyadarkan aku. Dengan ini aku mengibarkan bendera putih.

I’m officially giving up on you.

Satu Hari setelah Satu Bulan

Aku merasakan jantungku berdetak amat cepat dan tanganku mulai dingin seperti habis memegang bongkahan es batu dari kutub utara. Perasaan di hati ku sudah mulai tak karuan. Rasa senang, takut dan malu semua bercampur aduk menjadi satu di dalam hati. Otakku mulai memutar balik kenangan-kenangan yang indah. Langitpun seakan mendukung suasana hatiku yang sedang dibolak-balik oleh tangan Tuhan.

Hampir satu bulan lebih saat aku berbincang dengannya terakhir kali menanyakan apa yang selanjutnya akan dia tempuh untuk masa depannya. Aku selalu mengingat dengan detil apa yang pernah aku lalui bersamanya. Sampai detik ini, sampai aku menceritakan kisah ini aku akan selalu mengingatnya, meskipun pahit karena tidak bisa bersama terus.

Sekarang, sepertinya pertemanan yang telah kami bangun sudah hancur berkeping-keping karena satu malam. Ya hanya sampai batas pertemanan. Satu malam yang sangat menyiksa. Mungkin ini terdengar berlebihan, sungguh itu sangat menyiksa batin dan hati.

Mobil terus melaju mendekati tempat pertemuan kami. Jantungku terus berdetak semakin kencang. Aku melihat ke arah parkiran dan melihat satu buah motor yang menjadi saksi bisu kenangan kami, maksudnya aku bersamanya.

"Dia sudah datang."

Aku berjalan masuk dan tepat dihadapanku dia duduk. Aku berjalan dan mengambil tempat duduk yang menghadap dia. Jadi ketika aku mengobrol dengan orang di samping kanan dan kiriku, mataku bisa melewatinya terlebih dahulu.

Beberapa kali, aku menangkap bola matanya sedang melihat ke arahku. “Mungkin hanya perasaanku saja.” hiburku. Saat makanan datang, dia yang duduknya cukup jauh di depanku datang membantu membagikan makanan. Dia bertanya apa yang aku pesan. Lalu dia memberikan piring berisi ayam goreng kepadaku. Otakku langsung memutar saat kita makan disalah satu restoran pizza dan dia berkata, “sini diambilin” lalu dia menaruh pizza itu di piringku.

Beberapa puluh menit kemudian, aku dan semua teman-temanku bercengkrama dan bernostalgia. Tapi aku melihat dia hanya terdiam. Lagi, aku menangkap matanya melihat ke arahku beberapa kali. Kali ini, saat mata kami saling bertemu, aku melontarkan senyum dan dia langsung berpaling. Tragis. Tapi mungkin itu bisa membuat hatinya bergetar.

Sungguh ironi, kisahku ini. Sepertinya dia sudah melupakan kejadian malam itu dan bersikap biasa kepadaku.